Mery27's Blog

Mei 25, 2009

HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN REMAJA DALAM KEMISKINAN DI DESA CIARUTEUN ILIR KABUPATEN CIBUNGBULANG KABUPATEN BOGOR

Filed under: Uncategorized — mery27 @ 7:26 am

KOMUNIKASI PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

TAHUN 2009

ABSTRAK

Pengamatan ini dilakukan di desa Ciaruteun kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Daerah tersebut merupakan salah satu wilayah pemasok sayuran di Bogor. Luas lahan yang di gunakan sebagai pertanian adalah seluas 200 hektar. Jumlah Penduduk di desa tersebut adalah 10.356 orang, 5.285 orang diantarannya adalah laki-laki.. masyarakat yang berprofesi sebagai Petani berusia diatas 35 tahun sedangkan yang berusia 15-35 berprofesi sebagai tukang ojeg. Karena menurut mereka pekerjaan tersebut lebih baik dari pada petani. Dengan penghasilan 200 ribu setiap bulannya, petani tidak mampu memenuhi semua kebutuhan primer maupun skunder.Secara Umum Tingkat pendidikan disana rendah karena dari 1.546 penduduk 672 tidak tamat SD dan 609 tamat SD tetapi ada juga yang sarjana yaitu 15 orang. Sarana dan prasarana pendidikan yaitu. 6 sekolah dasar, tanpa sekolah Menegah pertama dan atas.

RINGKASAN

Jumlah penduduk miskin menurut data BPS mengalamiI penurunan antara tahun 2007 dan 2006 sekitar 2.13 juta jiwa. Namun jumlah pengagguran terus meningkat. Pendidikan pun tidak mampu menjangkau semua lapisan masyarkat. Kemelut kemiskinan semakin membelenggu pendidikan mereka yang berimbas ke beragam aspek seperti pekerjaan. Maka dari itu disini penulis ingin mengetahui bagaimana koherensi antara pendidikan dan lapangan pekerjaan yang tersedia. Dalam kondisi kemiskinan struktural di Pedesaan.

Data yang di peroleh merupakan data sekunder karena data-data berasal dari data kantor Desa Ciaruteun Ilir kemudian menghubungkannya dengan konsep dari beberapa ahli yang sesuai. Dari hasil olah data dan menganalisis penulis mendapatkan jawaban tentang beberapa permasalahan yaitu :

1. Kondisi sosial ekonomi masyarkat desa Ciaruteun ilir kurang baik. Masyarakat umumnya bekerja sebagai petani, pedagang dan tukang ojeg. Petani di desa tergolong petani sayuran karena mereka hanya menanam sayuran dalam 1 tahun penuh seperti bayam, kangkung , daun singkong dsb. Kemiskinan yang terjadi di sana menyebabkan kebutuhan seperti pendidikan tidak terpenuhi dengan baik

2. Kondisi Keluarga petani yang berada pada posisi miskin tersebut tidak mampu memberikan pendidikan yang layak pada anak-anaknya sehingga sebagian besar masyarakat di sana hanya lulusan SD bahkan tidak lulus SD

3. Akibat dari pendidikan rendah sehingga tidak memilki kompetensi untuk bidang-bidang pekerjaan tertentu yang di anggap baik. Mayoritas penduduk berusia diatas 35 tahun berprofesi sebagai petani. Sedangkan usia 15-35 tahun berprofesi sebagai tukang ojeg

Masalah kemiskinan adalah masalah kita bersama. Petani adalah orang yang sangat berjasa pada negeri ini. Sudah seharusnnya kita memperhatikan bersama kesejahteraan hidup mereka. .

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jumlah penduduk miskin yaitu penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan di Indonesia pada bulan Maret 2007 sebesar 37,17 juta (16,58 %). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan maret 2006 yang berjumlah 39,30 juta (17,75 %), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 2,13 juta1 . Walaupun kemiskinan di Indonesia telah menurun menurut data tapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat Indonesia hidupnya dibawah garis kemiskinan. Terlebih saat ini Indonesia terkena dampak krisis global, banyak usaha mikro bahkan makro merasakan dampaknya.

Kita perlu mengetahui dimana dan di sektor apa tempat rakyat kita yang sedang menderita kemiskinan. Menurut Kartidjo (1984) dalam selo soemardjan 1998 data statistik tahun 70 % dari rakyat kita berada di pedesaan dan hidup dalam sektor pertanian. Maka sebagian besar dari rakyat kita belum kebagian kesejahteraan dengan kata lain masih menderita kemiskinan. Sehingga perlu adanya pemerataan masyarakat tidak hanya di bidang materiil saja seperti pangan, sandang dan perumahan. Tetapi juga unsur-unsur kesejahteraan masyarakat yang lebih mendekatkan pembangunan kita kepada keadilan sosial seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, kesempatan kerja dan berusaha, kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan dan kesempatan memperoleh keadilan.

Hasil kesepakatan antara kepala pemerintah dunia untuk melaksanakan globalisasi akan direalisasikan tahun 2010. Dimana antara negara seperti tidak memilki batas (masyarakat dapat keluar masuk antar negara tanpa paspor dan visa). Kita bisa pergi kemana saja tanpa birokrasi yang rumit, perdagangan pun semakin mudah dengan bebasnnya pajak masuk disetiap negara, orang mudah bekerja di negara manapun dan teknologi akan berkembang semakin cepat. Yang patut kita pikirkan bersama apakah Indonesia telah siap dengan kondisi ini? Perlu pemikiran dan bantuan beragam pihak dalam permasalahan yang kompleks tersebut. Sehingga kita mampu bersaing dalam kondisi global tersebut.

Salah satu upaya pemerintah untuk penanganan buta tulis dan baca adalah pendidikan wajib 9 tahun. Sebenarnya dari kebijakan ini pemerintah tidak hanya untuk mengurangi kebodohan tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat, menekan pernikahan dini, serta mempersiapkan masyarakat untuk bersaing dengan masyarakat dari negara lain utamannya dalam kondisi dunia global. Pada kenyataannya saat ini kondisi kemiskinan masyarakat desa selalu menjadi kendala klasik dalam pelaksanaan program tersebut.

Banyak anak-anak usia produktif 13-20 tahun tidak melanjutkan pendidikan. Mereka lebih senang bekerja jadi buruh kasar lebih parahnya lagi mereka hanya diam nongkrong dipinggir jalan dengan sesamannya sambil bernyanyi riang tanpa beban. Tren yang saat ini terjadi mereka bekerja sebagai tukang ojek. Karena menurut mereka keren naik motor, bisa jalan-jalan dan keuntungannya besar. Penjualan sepeda motor nasional per Januari 2008 mencapai 473.060 unit, atau naik 38,0 persen dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebanyak 342.773 unit, demikian data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI)2. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berakibat pada melemahnya daya beli masyarakat, ternyata tidak menurunkan penjualan sepeda motor di Jawa Barat. Hingga kini kondisi penjualan tetap stabil, bahkan cenderung meningkat hingga 35 % karena adanya peralihan dari pengguna angkutan umum dan mobil ke sepeda motor3. Kemudahan dalam kredit sepeda motor membuat akses mereka mendapatkan alat transportasi ini mudah. Cukup dengan uang sekitar 500 ribu-1 juta kita bisa membawa pulang 1 kendaraan roda 2 tersebut. Namun dari fenomena tersebut kita tidak dapat mengambil kesimpulan praktis. Ada beberpa hal yang harus kita liat, kita harus mengetahui kondisi yang sebenarnnya terjadi berdasarkan pengamatan langsung maupun study buku hasil ulasan para tokoh-tokoh penting.

1.2 Rumusan Masalah

Beberapa hal yang ingin diketahui dalam pembahasanan mengenai ““Hubungan pendidikan dan pekerjaan remaja dalam kemiskinan di desa Ciaruteun Ilir Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor ”adalah

4. Bagaimana sosial ekonomi masyarakat ?

5. Bagaimana pengaruh kemiskinan terhadap tingkat pendidikan ?

6. Bagaimana pengaruh tingkat pendidikan terhadap pekerjaan?

1Data BPS tahun 2008, tentang kependudukan di peroleh melalui http://www.google.com/ 2008/15/12

2 Antara 12 Februari 2008, koran digital

3 Diperoleh dari http://www.jawapos.com terbit tanggal 14 maret 2008, Berita digital tentang penggunaan sepeda motor yang terus meningkat hingga 35 % di akses tanggal 15 Desember 2008

1.2 Tujuan penulisan

Dalam penulisan ini kami memiliki beberapa tujuan yaitu:

1. Untuk mengetahui sosial ekonomi masyarakat.

2. Untuk Mengetahui pengaruh kemiskinan terhadap tingkat pendidikan.

3. Bagaimana pengaruh tingkat pendidikan terhadap pekerjaan.

1.4 Manfaat penulisan

Manfaat yang kami harapkan setelah menyelesaikan tulisan ini adalah :

1. Memberikan informasi kondisi sosial ekonomi masyarakat desa, guna dasar pengambilan keputusan sosial

2. Mengetahui perkenbangan pendidikan wajib belajar 9 tahun masyarakat desa

3. memberikan informasi pertumbuhan saranan transportasi di desa.

4. Memberikan informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan kemajuan desa.

BAB II

PETA SOSIAL DESA CIARUTEUN ILIR KECAMATAN CIBUNGBULANG KABUPATEN BOGOR

2.1 Letak dan Keadaan Geografis

Desa Ciaruteun Ilir merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor dengan luas wilayah 360 ha, yang terbagi dalam 4 dusun, 10 Rukun Warga (RW), dan 35 Rukun Tetangga (RT). Berjarak 6 km dari kecamatan Cibungbulang, 17 km dari Ibukota Kabupaten Bogor dan 140 km dari Ibukota propinsi Jawa Barat. Batas wilayah Desa Ciaruteun Ilir adalah sebagai berikut:

a) Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Rumpin

b) Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Ciampea

c) Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Leuweng Kolot

d) Sebelah barat berbatasan dengan Desa Cijujung

Pemanfaatan lahan/penggunaan tanah Desa Ciaruteun ilir seluas 390 hektar adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Pemanfaatan lahan Desa Ciaruteun Ilir Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor, 2007

No Lahan Luas

1 Perumahan/pemukiman dan pekarangan 160 ha

2 Sawah 200 ha

3 Ladang/huma 19 ha

4 Pekarangan 3 ha

5 Perkantoran 5 ha

6 Lapangan Olah Raga 2 ha

7 Tanah/bangunan pendidikan 0.5 ha

8 Tanah/bangunan peribadatan 0.5 ha

Sumber : Data kantor desa Ciauruteun Ilir 2008

2.2 Kependudukan, Sarana dan Prasarana

Pendudukan Desa Ciaruteun Ilir sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Jumlah penduduk desa Ciaruteun Ilir adalah sebesar 10.356 jiwa, dengan tingkat pendidikan tidak tamat SD/sederajat untuk sebagian besar penduduknya. Kondisi kependudukan Desa Ciaruteun Ilir secara lengkap dapat dilihat pada Tabel di bawah ini:

Tabel 2. Jumlah Penduduk Desa Ciaruteun Ilir Kecamatan Cibungbulang Kabuptaen Bogor, 2007

jenis kelamin Jumlah

laki-laki 5. 285

perempuan 5. 071

total 10. 356

Sumber : Data kantor desa Ciauruteun Ilir 2008

Penduduk desa sebagaian besar beragama islam. Dengan komposisi Islam 96.2%, budha 3,2% dan Protestan 0.6%. Sehingga tempat pribadatan yang tersedia hanya Musholla 15 buah dan masjid 10 buah. Dengan kondisi jumlah penduduk yang cukup besar desa tersebut memiliki fasilitas kesehatan yang rendah. Hanya ada 1 buah Puskesmas dan 10 buah Posyandu. Dengan Dokter Puskesmas 1 orang, Dokter Praktek Swasta 1 orang, Bidan Desa 1 orang, Bidan praktek swasta 3 orang, Kader Posyandu 30 orangdan Dukun beranak terlatih 5 orang.

Desa Ciaruteun Ilir memiliki kantor desa, balai pertemuan sebayak 1 buah dan poskamling yang tersebar di 4 dusun sebanyak 10 buah. Selain itu desa Ciaruteun memiliki fasilitas olahraga seperti lapangan Sepak Bola, Lapngan Badminton, dan Lapangan Bola Voli. Walaupun telah memiliki beberapa sarana kesehatan, pribadatan serta olah raga tetapi jumlah yang tersedia tidak mampu menampung jumlah penduduk yang cukup besar. Selain itu minimnya fasilitas juga sangat mempengaruhi pelayanan di sana.

BAB III

KONDISI EKONOMI SOSIAL MASYARAKAT

Menurut Selo soemardjan (1984)Kemiskinan yang terjadi di desa adalah kemiskinan struktural. Yaitu kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat iikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnnya tersedia bagi mereka. Golongan demikian itu misalnnya terdiri dari para petani yang tanah miliknya begitu kecil sehingga hasilnya tidak cukup untuk memberi makan kepada dirinya sendiri dan keluargannya. Termasuk golongan miskin adalah kaum buruh yang tidak terpelajar dan tidak terlatih. Golongan miskin itu meliputi juga para pengusaha tanpa modal dan tanpa fasilitas dari pemerintah, yang sekarang dapat dapat dinamakan golongan ekonomi sangat lemah

Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. Selama Maret 2006-Maret 2007, Garis Kemiskinan naik sebesar 9,67 %, yaitu dari Rp.151.997,- per kapita per bulan pada Maret 2006 menjadi Rp.166.697,- per kapita per bulan pada Maret 2007. Dengan memerhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada bulan Maret 2006, sumbangan GKM terhadap GK sebesar 75,08 %, tetapi pada bulan Maret 2007, peranannya hanya turun sedikit menjadi 74,38 %( Data BPS,2008 ).Dari perhitungan BPS tentang batasan masyarakat miskin. Dapat kita simpulkan untuk makan saja apakah cukup, lalu bagaimana untuk biaya pendidikan anak-anak mereka.

Menurut data di kantor desa Ciaruteun ilir rata –rata pendapatan masyarakat desa yaitu Rp.200.000 ribu perbulan. Angka ini lebih besar dari batas minimum batas penghasilan masyarakat miskin menurut BPS (badan pusat statistika). Namun menurut Soemardjan (1984), dalam hidupnya manusia memiliki kebutuhan utama dan tambahan. Kebutuhan pokok yaitu makan, pakaian, dan obat-obatan. Kebutuhan tambahan hidup layak, pendidikan, rekreasi dsb. Bila masyarakat hanya mampu memenuhi salah satu dari kebutuhan tersebut maka dianggap miskin. Dilihat dari sudut pandang Soermadjan masyarakat desa ciauruteun ilir tergolong miskin karena kebutuhan tambahan belum terpenuhi.

BAB IV

PENGARUH KEMISKINAN TERHADAP TINGKAT PENDIDIKAN

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan , pengajarana atau latihan bagi perannya pada masa-masa yang akan datang (Hasbullah,1997:134). Beberapa hal yang perlu di jadikan pedoman dalam pendidikan menurut Hasbullah yaitu :

a. Pendidikan harus diarahkan untuk kesejahteraan bangsa

b. Pendidikan berfungsi untuk mempersipakan tenaga kerja bagi industry mendatang

c. Pendidikan berfungsi untuk penguatan IPTEK

Pendidikan mutlak di butuhkan oleh semua warga Indonesia baik pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan sangat menunjang perbaikan raraf hidup kita. Pendidikan di artikan sebagai usaha yang di jalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental (Sudirman N, 1992:4). Saat ini, di Indonesia melakasanakan wajab belajar 9 tahun terhitung dari tingkat SD sampai SLTA.

Dalam pelaksanaan wajib belajar 9 tahun yang telah di programkan pemerintah membutuhkan sarana dan prasarana. Berikut adalah jumlah sarana dan prasarana pendidikan yang ada di desa ciaruterun ilir

Tabel sarana dan prasarana pendidikan umum di desa Ciaruteun Ilir kecamatan Cibungbulang kabupaten Bogor 2007

No Sarana dan prasarana Jumlah

1 Taman Kanak-kanak – Buah

2 Sekolah Dasar 6 buah

3 Sekolah Menengah Pertama – Buah

4 Sekolah Menengah Atas – Buah

5 Tempat-tempat Kursus – Buah

Sumber : Data kantor desa Ciauruteun Ilir 2008

Tabel Sarana dan prasarana pendidikan Islam di desa Ciaruteun Ilir kecamatan Cibungbulang kabupaten Bogor 2007

No Sarana dan Prasarana Jumlah

1 RA/TK Al-Quran 4 Buah

2 MI - Buah

3 MTS - Buah

4 MAN - Buah

5 Pondok Pesantren 4 Buah

6 Majelis Taklim 16 Buah

Sumber : Data kantor desa Ciauruteun Ilir 2008

Menurut Dr. Thee Kian Wie 1981 dalam Haidjoro 1990, Kemiskinan terjadi karena masyarakat tidak dapat mengendalikan/memanfaatkan teknologi secara efisien dan tepat. Karena tidak memahami cara penggunaan teknologi secara tepat akibat dari tidak memiliki pendidikan cukup. Disamping akibat biaya pendidikan mahal. Berikut adalah tabel tingkat pendidikan masyarakat desa Ciaruteun Ilir

Tabel 3. Tingkat Pendidikan Penduduk di desa Ciaruteun Ilir kecamatan Cibungbulang kabupaten Bogor 2007

No Tingkat Pendidikan Jumlah

1 Tidak tamat SD/sederajat 672 orang

2 Tamat SD/sederajat 609 orang

3 Tamat SLTP/sederajat 129 orang

4 Tamat SLTA/sederajat 109 orang

5 Tamat Akademi 12 orang

6 Tamat Perguruan tinggi/sarjana 15 orang

Jumlah 1546 orang

Sumber : Data kantor desa Ciauruteun Ilir 2008

Dari data tersebut dapat kita simpulkan bahwa pelaksanaan wajib belajar 9 tahun di desa Ciaruteun ilir belum terlaksana dengan baik. Bahkan jumlah penduduk yang tidak tamat Sekolah dasar lebih banyak. Ini kondisi yang sangat memperihatinkan daerah yang dekat dengan pusat pemerintahan namun pendidikan masih rendah. Permasalahan yang komplek menjadi penyebab rendahnnya pendidikan disana tidak hanya masalah sosial ekonomi.

Setelah memperoleh data dari kantor desa Ciaureteun ilir. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya pendidikan disana adalah :

1. Minat dan daya juang remaja disana rendah tentang pendidikan

2. Kurangnnya sarana pendidikan yang disediakan oleh pemerintah. Hanya ada 4 SD Negeri tanpa SMP dan SMA.

3. Jarak SMA maupun SMP dari komunitas warga berjarak lebih dari 15 Km

4. Sulit sarana transportasi kalau pun ada yaitu ojek tentu dengan harga yang mahal dengan biaya ±15.000 pulang-pergi. Sedangkan pendapatn rata-rata masayarakat disana Rp 200.00/bulan

5. Kondisi Ekonomi yang hanya sebagai petani penggarap tidak cukup memenuhi kebutuhan biaya pendidikan.

BAB V

PENGARUH PENDIDIKAN TERHADAP TINGKAT KELAYAKAN KERJA

Kondisi perbandingan lapangan pekerjaan yang tersedia dengan jumlah pencari pekerjaan memiliki perbandingan sudah tidak sehat lagi. Ini sering terjadi di Negara Berkembang seperti Indonesia.Bekerja adalah sutu kegiatan manusia untuk menghasilkan sebuah karya sehingga dapat bermanfaat untuk orang lain (Amri Marzali,2003). Menurut Margono Slamet (2003), pekerjaan seseorang dapat mencirikan pendidikan yang mereka miliki. Dengan pekerjaan yang layak dapat membantu memperbaikai kondisi perekonomian desa bahkan pembangunan desa. Dalam pekerjaan yang beragam bidang setiap indivudu di harapkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan daerahnnya.

Tabel 2. Mata Pencaharian Penduduk Desa Ciaruteun Ilir kecamatan Cibungbulang kabupaten Bogor 2007

No Pekerjaan Jumlah

1 Pedagang 930 orang

2 Petani 922 orang

3 Pegawai Negeri 10 orang

4 TNI/Polri 4 orang

5 Pensiun/Purnawirawan 3 orang

6 Swasta 15 orang

7 Buruh Pabrik 10 orang

8 Pengrajin 5 orang

9 Tukang Bangunan 140 orang

10 Penjahit 3 orang

11 Tukang Las 50 orang

12 Tukang Ojeg 875 orang

13 Bengkel 76 orang

14 Sopir Angkutan 62 orang

15 Lain-lain 255 orang

Sumber : Data kantor desa Ciauruteun Ilir 2008

Dari data diatas kita dapat menyimpulkan mayoritas masyarakat desa ciaruteun ilir bekerja sebagai pedagang, petani dan tukang ojeg. Sebesar 85% masyarakat desa yang bekerja sebagai pedagang dan petani adalah mereka yang berumur 35-50 tahun. Sedangkan tukang ojeg 80% masyarakat usia 15-35 tahun. Kalau dilihat dari usia seharusnya mereka duduk di bangku SMP, SMA bahkan kuliah.

Menurut Haidjoro (1990), faktor-faktor pendorong mahasiswa melanjutkan pendidikan :

· Melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi

· Kesempatan pekerjaan lebih baik bagi lulusan perguruan

· Membuat agar diri siap untuk memenuhi tuntutan kerja

Pendapat haidjoro tersebut dapat dikatakan benar. Karena tingkat pendidikan sangat mempengaruhi kesiapan kerja individu. Bisa dibayangkan bila lulusan SD tanpa pendidikan dan latihan sulit menjadi progremer yang handal. Kondisi sosial ekonomi dan prasarana yang tidak mendukung di desa tersebut menyebabkan pendidikan mereka rendah. Sehingga untuk mendapatkan pekerjaan yang layak pun sulit. Mereka bekerja sebagai buruh kasar di kota dan tukang ojeg yang di anggap lebih nyaman dan baik dari pada petani yang terkesan kumuh, kotor dan bau. Apabila mereka memiliki kemampaun dan pengetahuan lebih tentang pertanian, mekenika dsb. Mereka dapat menekuni bidang tersebut dengan baik maka hidup mereka akan sejahtera. Khusus di bidang pertanian apabila mereka memiliki ilmu dan kemampuan untuk merubah pandangan untuk mengelola pertanian masih memiliki harapan. Terlebih petani-petani saat ini sudah tua sebentar lagi mereka sudah tidak mampu bertani lagi lalu, siapa yang kan melanjutkan pertaniaan.

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

1. Masayarkat desa Ciaruteun ilir termasuk masyarakat miskin karena tidak semua kebutuhan utama dan tambahan terpenuhi dengan baik. Karena pengasilan yang rendah sekitar Rp. 200.00/bulan

2. Kemiskinan yang terjadi di desa Ciaruteun Ilir adalah kemiskinan struktural

3. Sekitar 600 orang yang tamat sekolah dasar hampir sebanding dengan jumlah masyarakat yang bahkan tidak lulus sekolah dasar. Ini menunjukkan tingkat pendidikan disana rendah.

4. Kondisi sosial ekonomi dan fasilitas pendidikan yang tidak tersedia menyebabkan tingkat pendidikan yang rendah.

5. Pendidikan yang rendah menyebakan membuat mereka hanya memilki keahlian di bidang pertanian, perdagangan dan tukang ojeg yang di pelajari secara otodidok.

6. Pertanian memiliki masa depan suram bagi masyarakat remaja disana sehingga mereka lebih memilih tukang ojeg dari pada petani

6.2 Saran

1. Pendidikan merupana tanggung jawab kita bersama seharusnnya kita sama- sama membantu penyelesian masalah pendidikan di desa ciaruteun ilir. Misal dengan cara pembangunan pendidikan SMP, SMA ataupun sederajat.

2. Pemerintah dan instansi terkait harus lebih memperhatikan kesejahteraan petani karena mereka termasuk pahlawan bangsa misalkan tidak ada yang mau jadi petani lagi. Negara ini akan mendapatakan persoalan pelik dengan kelaparan.

3. Masyarakat harus sadar dan mau menerima bahwa kenaikan harga beras dan bahan pokok lainnya dapat membantu petani.

DAFTAR PUSTAKA

Hasbullah.1997.Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers

Marzali,Amir.2003. Strategi Peisan Cikalong dalam Menghadapai Kemiskinan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Notodiharjo, Haidjoro.1990.Pendidikan Tinggi dan Tenaga Kerja tinggi di Indonesia .Jakarta: UI-Press

Planck, Ulrich dkk. 1990. Sosiologi Pedesaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Soemaryo.1998. Kemiskinan struktural: suatu bunga rampai. Jakarta: Mataangin Offset

Kantor Desa Ciaruteun Ilir Kecamatan Cibungbulang Kabupaen Bogor. 2007. Data Kependudukan Desa Ciaruteun Ilir. Bogor: Kantor Desa Ciaruteun.

http://auto.okezone.com/index.php/2008/03/14/ Penjualan sepeda Motor terus meningkat

http://www.Antara.co.id/arc/2008/2/19/ Penjualan sepeda motor perjanuari 2008

http://www. google.co.id/BPS/2008/15/12/ Tingkat kemiskinan 2007 data BPS

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Banana Smoothie Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: